Widhi menyimpan pisau itu dengan hati-hati, lalu menatap Lynx. "Kau membawa lebih banyak kejutan dari yang kuharapkan, Lynx. Tapi aku rasa kau juga punya alasan lain untuk datang ke sini."

Lynx mengangguk. "Ya. Aku ingin bertanya sesuatu. Ketika makhluk mutasi itu menyerang, aku teringat sesuatu yang dikatakan nenek Drona dari Sinto. Dia bilang, makhluk mutasi liar biasanya hanya berkeliaran di bagian barat pulau. Hanya makhluk peliharaan Monrest yang terlihat di bagian timur. Jadi, mengapa makhluk itu bisa sampai di sini?"

Widhi mengerutkan alis, jelas terkejut dengan pertanyaan itu. "Itu memang aneh," katanya, berpikir keras. "Selama ini, kami tidak pernah melihat makhluk seperti itu di wilayah kami. Tapi sekarang kau menyebutnya, aku setuju—itu bukan hal yang wajar."

Tiba-tiba, salah satu penjaga masuk ke balai dengan tergesa-gesa, wajahnya penuh kekhawatiran. "Kepala suku, kami mendapatkan laporan dari mata-mata kami."

Widhi meluruskan punggungnya, nada suaranya menjadi lebih tegas. "Apa yang kau ketahui?"

"Mahluk itu..." Penjaga itu menarik napas dalam-dalam. "Itu milik Monrest. Kami menduga mereka sengaja melepasnya untuk melacak lokasi desa kita karena sering berpindah tempat."

Suasana di dalam balai berubah drastis. Penduduk yang awalnya berbisik-bisik kini terdiam, wajah mereka dipenuhi ketakutan.

"Monrest sengaja mencari kita?" tanya Narendra, wajahnya tegang.

Penjaga itu mengangguk. "Sepertinya begitu. Dan sekarang, setelah makhluk mereka mati, mereka mungkin akan segera datang dengan pasukan penuh."

Kabar itu menyebar dengan cepat ke seluruh desa, menciptakan kepanikan di antara penduduk. Mereka menghentikan perayaan mereka, orang-orang mulai mengumpulkan barang-barang, bersiap untuk meninggalkan desa seperti yang biasa mereka lakukan setiap kali ada ancaman dari Monrest.

Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, seorang pria besar bernama Roni berbicara dengan nada keras di tengah kerumunan. "Ini semua karena dia!" katanya sambil menunjuk Lynx, matanya penuh kemarahan.

Penduduk lain berhenti sejenak, menoleh ke arah Roni.

"Kau tahu apa yang membuat makhluk itu datang?" lanjut Roni."Kedatangan mahluk itu bersamaan dengan datangnya dia, ini bukanlah suatu kebetulan. Pasti dia penyebab datangnya makhluk itu."

"Tapi dia yang membantu kita melawannya, bahkan dia menyelamatkanku," balas seseorang yang pernah diselamatkan Lynx pada saat mereka bertarung.

"Itu hanyalah cara dia agar kita melindunginya dari kejaran Makhluk itu. Keberanian kita untuk melawannya membuat suku Monrest marah! Dan siapa yang memimpin kita melawan makhluk itu? Orang asing ini! Dia memprovokasi kita untuk bertarung, dan sekarang Monrest akan menghancurkan kita karena itu!"

Lynx menatap Roni dengan mata tenang, meskipun tuduhan itu jelas tidak adil.

Narendra melangkah maju, berdiri di antara Lynx dan Roni. "Roni, itu omong kosong. Lynx menyelamatkan banyak dari kita. Tanpa dia, kita tidak akan selamat dari makhluk itu."

"Tapi siapa yang membawa masalah ini?" Roni bersikeras. "Tanpa dia, kita tidak akan terlibat dengan Monrest!"

"Tanpa dia, kau mungkin sudah mati!" bentak Narendra. "Dia menggunakan kekuatannya untuk melindungi kita. Apa kau lupa bagaimana dia memimpin pertarungan dan melindungi kita saat dalam bahaya?"

"Kalian berdua cukup!" Suara Widhi memotong perdebatan, suaranya tegas namun tidak meninggikan nada. Semua orang langsung terdiam.

Widhi menatap Roni dengan tajam. "Roni, aku mengerti ketakutanmu. Tapi menuduh Lynx tidak akan menyelesaikan apa-apa. Kau tahu itu."

Roni terlihat ingin membalas, tetapi ia akhirnya mengangguk pelan dan mundur ke kerumunan.

Widhi kemudian berbalik ke arah semua penduduk. "Dengar aku! Monrest mungkin akan datang, dan seperti biasa, kita akan bersiap untuk pergi. Tapi kali ini, kita harus lebih cepat dan lebih hati-hati."

Kerumunan mulai bersiap kembali, meskipun ketegangan masih terasa. Narendra berjalan mendekati Lynx, menepuk bahunya.

"Jangan pedulikan Roni. Dia hanya berbicara karena takut," kata Narendra.

Lynx mengangguk. "Aku mengerti. Tapi aku tidak akan pergi begitu saja. Aku ingin membantu."

Widhi, yang mendengar percakapan mereka, mendekat. "Aku menghargai tawaranmu, Lynx. Tapi apa yang bisa kau lakukan seorang diri melawan Monrest?"

Lynx menatap kepala suku dengan penuh keyakinan. "Lebih dari yang kau kira."

Widhi menatap Lynx lama, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Jika kau benar-benar ingin membantu, buktikan itu. Tapi ingat, keselamatan desa adalah prioritas utama."

Lynx tersenyum tipis. "Aku tidak akan mengecewakanmu."

Dengan suasana desa yang semakin tegang, Lynx tahu bahwa ia harus membuat rencana besar. Jika Monrest benar-benar datang, ini akan menjadi ujian terbesar bagi suku Uksa—dan bagi dirinya sendiri.

Setelah keputusan kepala suku Widhi untuk bersiap berpindah tempat, desa Uksa berubah menjadi sarang aktivitas. Penduduk mulai mengemasi barang-barang, mengamankan jebakan, dan menyembunyikan persediaan makanan yang tidak bisa dibawa. Namun, suasana tegang dan bisik-bisik cemas masih melingkupi mereka.

Lynx berdiri di tengah kerumunan yang sibuk, mengamati semua orang bekerja. Ia tahu bahwa meskipun penduduk Uksa sangat terorganisir, mereka tetap merasa tidak berdaya menghadapi ancaman Monrest.

Narendra mendekat, membawa tombak di tangannya. "Kau yakin bisa membantu kami?" tanyanya dengan nada serius.

Lynx mengangguk. "Tentu saja. Tapi aku butuh lebih dari sekadar senjata."

Narendra mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Kita harus membuat rencana yang lebih baik. Pindah tempat memang solusi sementara, tapi itu tidak akan menghentikan Monrest. Mereka akan terus mengejar kalian," jelas Lynx.

Narendra mengangguk perlahan, meskipun matanya masih menunjukkan keraguan. "Dan apa yang kau usulkan?"

"Saat kalian bersiap untuk pindah, kita bisa memasang jebakan di sepanjang jalur yang mungkin dilewati Monrest. Itu akan memperlambat mereka," kata Lynx. "Tapi yang lebih penting, kita harus mempersiapkan kalian untuk melawan jika keadaan memaksa."

Narendra memandang Lynx dengan serius. "Kami bukan suku Raksa, Lynx. Kami tidak dilatih untuk bertarung. Kami hanya tahu cara bertahan hidup."

Lynx menepuk bahu Narendra. "Bertahan hidup adalah langkah pertama untuk menang. Aku hanya butuh beberapa pria pemberani yang mau belajar. Sisanya akan menjaga anak-anak dan wanita untuk pindah ke tempat yang aman."

Malam itu juga Narendra mengumpulkan kembali suku Uksa di balai pertemuan, Lynx memaparkan idenya kepada Widhi dan beberapa pria terkuat di desa. Narendra berdiri di sampingnya, mendukung gagasan Lynx meskipun awalnya skeptis.

"Kita pasang jebakan di jalur yang bisa dilewati Monrest," jelas Lynx, menunjuk pada peta kasar yang digambar di tanah. "Jebakan tali, lubang dengan kayu runcing, dan beberapa jebakan batu di tempat yang strategis yang bisa kita buat malam ini juga. Itu akan memperlambat mereka."

Widhi mengangguk perlahan. "Ide yang bagus. Tapi kita punya waktu terbatas. Apa kau yakin ini bisa selesai sebelum mereka tiba?"

"Kita tidak perlu memasang jebakan di seluruh jalur. Cukup di beberapa titik penting. Dengan cara itu, kita bisa mengarahkan mereka ke tempat tertentu," jelas Lynx.

Salah satu pria, Roni, yang sebelumnya menuduh Lynx, mengangkat tangannya dengan nada mencibir. "Dan apa kau pikir jebakan ini cukup untuk menghentikan mereka? Monrest bukan binatang liar yang mudah ditipu."

Narendra menatap Roni tajam. "Lynx sudah membuktikan dirinya lebih dari sekali. Kalau kau tidak ingin membantu, diam saja."

Roni mendengus, tapi akhirnya diam, meskipun wajahnya masih menunjukkan ketidaksetujuan.

Widhi berdiri, menatap para pria di sekitarnya. "Baiklah. Kita akan melaksanakan rencana ini. Narendra, kau akan memimpin tim yang memasang jebakan bersama Lynx. Aku akan memastikan persiapan untuk pindah berjalan lancar."

Narendra mengangguk, lalu menoleh ke Lynx. "Baiklah. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan."

Sementara jebakan mulai dipasang, Lynx meluangkan waktu untuk melatih beberapa pria Uksa yang paling berani. Ia mengajarkan mereka cara memegang tombak dengan lebih efisien, bagaimana menyerang titik lemah lawan, dan cara bergerak dengan cepat tanpa mengorbankan keseimbangan.

Narendra memperhatikan dengan seksama, mencoba memahami teknik Lynx yang terlihat berbeda dari cara bertarung yang biasa mereka gunakan.

"Kau seperti sudah bertahun-tahun bertarung," kata Narendra saat Lynx memperagakan cara menghindari serangan.

"Bisa dibilang begitu," jawab Lynx sambil tersenyum tipis. "Tapi yang lebih penting, kalian harus memahami bahwa bertarung bukan hanya soal kekuatan. Ini soal strategi."

Para pria Uksa mendengarkan dengan serius, meskipun beberapa dari mereka terlihat canggung memegang senjata.

"Ayo, lebih cepat!" seru Lynx, mendorong mereka untuk bergerak lebih lincah. "Ingat, kalian tidak harus membunuh lawan kalian. Kadang cukup membuat mereka mundur."

Menjelang subuh, seluruh anak-anak dan wanita dan beberapa pria sudah bergerak pindah ke tempat aman, mereka bergerak perlahan-lahan agar tidak mencurigakan.

"Kanha, kamu harus mengikuti dan memastikan keamanan mereka semua. Kamu cerdas dan berani, pasti bisa ikut melindungi mereka," Lynx merayu Kanha yang bersikeras ingin ikut bertarung.

Kanha yang mendengar kata-kata Lynx terbujuk dan dengan semangat, dia menggantikan tugas kepala suku yang juga ayahnya untuk membantu melindungi warga yang pindah.

Menjelang pagi harinya, ketika sebagian besar penduduk yang masih tinggal sudah mulai beristirahat, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari arah hutan. Salah satu mata-mata Uksa berlari ke balai pertemuan, wajahnya penuh keringat dan ketakutan.

"Kepala Suku! Mereka datang!" serunya.

Semua orang yang berada di balai segera berdiri. Narendra maju mendekat. "Berapa banyak?"

"Mereka belum terlihat jelas, tapi jejak mereka ada di jalur utama. Aku yakin itu Monrest. Dan mereka pasti tahu tentang makhluk mereka yang mati di sini," kata mata-mata itu.

Widhi mengangguk, wajahnya serius. "Beritahu semua orang untuk bersiap. Kita akan bertarung untuk memperlambat dan memastikan semua suku kita yang sedang proses pindah tetap aman."

Roni yang berada di antara kerumunan berteriak, "Aku bilang apa? Ini semua karena orang asing ini! Jika kita menyerahkan dia kepada Monrest, mereka mungkin akan membiarkan kita pergi!"

Kerumunan mulai bergemuruh, beberapa orang tampak ragu, sementara yang lain mulai terpengaruh oleh ucapan Roni.

"Cukup!" salah seorang Uksa maju ke tengah, menatap Roni dengan marah. "Jika bukan karena Lynx, kita semua mungkin sudah mati oleh makhluk itu. Kau ingin menyerahkannya? Kalau begitu, kau bukan bagian dari desa ini!"

Widhi mengangkat tangannya, memotong keributan itu. "Cukup. Tidak ada waktu untuk saling menyalahkan. Lynx adalah sekutu kita, dan dia sudah membuktikan dirinya. Kita akan melanjutkan rencana kita. Semua orang, bergerak sekarang!"


